VBL Ajak Gereja Atasi Buruh Migran

berbagi di:
1a

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat berfoto bersama para uskup se-Nusa Tenggara dan tokoh Gereja Katolik pada Pertemuan Pastoral XI Regio Nusra di Atambua, kemarin. Foto: Mutiara Malahere/VN

 

 
Mutiara Malahere
Persoalan mendasar yang menyebabkan NTT terjerumus dalam kubangan kemiskinan adalah tidak ada upaya berbuat sesuatu, sementara NTT memiliki sumber daya alam yang luar biasa.

Kemiskinan memicu tingginya angka buruh migran. Karena itu pemerintah bersama-sama dengan gereja harus bekerja keras mengatasinya melalui pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengatakan itu dalam Pertemuan Pastoral XI Regio Nusra di Hotel Matahari, Atambua, Rabu (24/7).

Pertemuan pastoral tersebut merupakan agenda tiga tahunan para waligereja (uskup) se-Nusa Tenggara. Tema yang dibahas lima uskup se-Nusa Tenggara kali ini adalah “Gereja Nusra Peduli Migran Perantau”.

Berbagai ide Gubernur VBL disampaikan dengan gamblang. Secara umum, VBL menyebutkan kemiskinan sebagai faktor pendorong (push factor) persoalan tenaga kerja asal NTT. Pada sisi lain, cerita sukses segelintir orang menjadi faktor penarik (pull factor) minat orang, untuk bekerja ke luar negeri. Karena itu, politisi Partai NasDem itu sepakat dengan niat pihak gereja, untuk terlibat dalam pemberdayaan ekonomi dan upaya peningkatan pendidikan masyarakat desa. Secara rigit, Laiskodat mengurai semua potensi NTT dengan prospeknya. Ia meyakini, jika komponen masyarakat sipil, pengusaha dan pemerintah bekerja serius, semuanya bisa segera dicapai.
Ia menegaskan bahwa pihak gereja pun harus kreatif dan inovatif dalam hal pemberdayaan ekonomi umat dengan memanfaatkan semua potensi SDA yang ada agar umat bisa terbebas dari persoalan kemiskinan yang memicu orang menjadi buruh migran.

VBL mengatakan sangat mendukung gereja dalam memperkuat kelembagaan agar dapat memerangi persoalan buruh migran dan perantau di NTT.
Pemprov NTT saat ini sudah melakukan moratorium pengiriman tenaga kerja ke luar daerah/negeri. Pihak Gereja Katolik diminta mendukung terutama mengubah pola pikir masyarakat agar tak perlu harus menjadi buruh migran untuk mengatasi kemiskinan.

“Gereja mengambil peran besar melakukan pemberdayaan umat dengan membentuk kelompok binaan dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, dan kewirausahaan lainnya dan kami akan memberikan dukungan penuh melalui keberpihakan anggaran agar kelompok binaan dapat berkembang dan mandiri secara ekonomi,” jelas VBL.

Uskup Atambua Mgr Dr Dominikus Saku Pr mengatakan, tema buruh migran dan perantau yang diangkat dalam Pertemuan Pastoral tersebut sejatinya menjadi sebuah tanggung jawab bersama pemerintah, gereja dan masyarakat.
Gereja Katolik, kata dia, melalui kelompok umat basis (KUB) bisa mencegah masyarakat yang tidak memiliki dokumen lengkap untuk menjadi buruh migran agar tidak menjadi sasaran kejahatan perdagangan orang.

“Melalui umat di KUB semua informasi yang beredar agar bisa mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan perdagangan orang,” kata Uskup Dominikus.
Pameran Kreatif
Pantauan VN, tujuh uskup se-Regio Nusa yang hadir dalam Pertemuan Pastoral tersebut adalah Mgr Dominikus Saku (Uskup Atambua selaku tuan rumah), Mgr Petrus Turang (Uskup Agung Kupang), Mgr Edmund Woga (Uskup Weetabula), Mgr Fransiskus Kopong Kung (Uskup Larantuka), Mgr Vincentius Sensi Potokota (Uskup Agung Ende), Mgr Ewaldus Martinus Sedu (Uskup Maumere), dan Mgr Silvester San (Uskup Denpasar).

Dari unsur pemerintah, selain Gubernur VBL, hadir pula Wakil Bupati Belu JT Ose Luan, Kepala Dinas Koperasi dan Nakertrans NTT Sisilia Sona, bersama para undangan lain.

167 orang peserta dilaporkan hadir dalam kegiatan tiga tahunan itu. Mereka berasal dari delapan keuskupan regional Nusra, para direktur/sekretaris pastoral, utusan keukupan, pendamping ahli dan pengamat termasuk panitia.

Dalam rangka memeriahkan kegiatan pertemuan pastoral itu, tuan rumah juga menyelenggarakan pameran ekonomi kreatif yang berpusat di sekitar lapangan Emaus, Seminari Santa Imaculata Lalian. Terdapat 46 stand pameran dari perakilan paroki yang ada dalam empat Dekenat Keuskupan Atambua.

Adapun agenda pertemuan tersebut berupa testimoni dari keuskupan-keuskupan, presentase kajian terkini mengenai buruh migran dan perantau, tanggapan dan atau masukan pendamping ahli dan pengamat, diskusi kelompok, diskusi pleno, rekomendasi, serta perayaan misa dan pertemuan khusus para uskup.

Pertemuan pastoral ini dijadwalkan berlangsung hingga 27 Juli mendatang. Pertemuan diawali misa pembukaan yang dihadiri para uskup di Gereja Santa Maria Imaculata Atambua, dengan Selebran Utama Uskup Dominikus Saku. (tia/C-1)