VBL Tegaskan Bendungan Kolhua tak Bisa Dibangun

berbagi di:
Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi menyerahkan anakan kelor kepada Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore, Plt Bupati Kupang Korinus Masneno, Plt Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke, Bupati Rote Ndao Leonard Haning, dan pejabat yang mewakili Bupati Alor dalam rapat kerja dengan para bupati dan wali kota Region I di Millenium Ball Room Kupang, kemarin. Foto: Nahor Fatbanu/VN

Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi menyerahkan anakan kelor kepada Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore, Plt Bupati Kupang Korinus Masneno, Plt Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke, Bupati Rote Ndao Leonard Haning, dan pejabat yang mewakili Bupati Alor dalam rapat kerja dengan para bupati dan wali kota Region I di Millenium Ball Room Kupang, kemarin. Foto: Nahor Fatbanu/VN

 
Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menegaskan tak akan membangun bendungan di wilayah Kolhua, Kota Kupang. Menurut VBL, Selain membahayakan masyarakat Kota Kupang, pembangunan Bendungan Kolhua bakal menggusur wilayah Suku Helong selaku etnis “pemilik” Kota Kupang.

Penegasan Gubernur VBL itu disampaikan dalam Rapat Kerja dengan para bupati/wali kota Region I yang meliputi Rote Ndao, Sabu Raijua, Alor, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan TTS, serta para camat dan kepala desa/lurah di wilayah-wilayah tersebut. Raker berlangsung di Millenium Ball Room Kupang, Selasa (4/12).

Hadir Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore, Plt Bupati Kupang Korinus Masneno, Plt Bupati Sarai Nikodemus Rihi Heke, Bupati Alor Amon Djobo, dan Bupati Rote Ndao Lens Haning.

Penegasan Gubernur itu menanggapi pernyataan Camat Maulafa Lodywik Djungu Lape yang meminta air dan bibit untuk pengembangan kelor.

Ia menjelaskan, penelitian Jepang menunjukan wilayah Kolhua tidak cocok untuk membangun bendungan. Ketika dibangun bendungan dan pecah, maka masyarakat Kota Kupang akan terbunuh. “Sehingga sebelum itu terjadi kita harus menghindari itu. Coba Pemerintah Kota Kupang manfaatkan Jembatan Liliba untuk membangun bendungan itu sehingga tidak membahayakan masyarakat Kota Kupang,” katanya.

VBL menyarankan Wali Kota Jefri untuk berbicara dengan Bupati Kupang terpilih Korinus Masneno, agar Pemkot bisa mengelola Bendungan Tilong untuk kebutuhan air bersih Kota Kupang. Sebab, kata VBL, ada sumber air, hanya saja salah urus akibat kepemimpinan yang ego sehingga membuat masyarakat kesulitan air bersih.

Ke depan semua gudang di Kota Kupang harus dipindahkan ke Kawasan Industri (KI) Bolok dan Pemkab Kupang bisa mendapat keuntungan dari KI Bolok.

“Sehingga tidak ribut lagi soal air bersih karena Kabupaten Kupang akan mendapatkan keuntungan dari pajak para pemilik gudang dan Kota Kupang dapat keuntungan dari pengelolaan Tilong,” ucapnya.

Pada pertemuan tersebut, salah satu camat yang dari TTS meminta perhatian Gubernur VBL terkait akan dibangunnya energi kincir angin di TTS oleh pengusaha asal Singapura. Menanggapi itu, Gubernur menyatakan sangat mendukung pembangunan sumber energi baru tersebut. Sebab, investor asal Singapura itu pun dikenal baik oleh Gubernur.

Sementara itu, salah satu camat dari wilayah Amfoang mengatakan, masyarakat setempat khawatir karena muncul isu pengalihan anggaran pembangunan jalan di Amfoang. Padahal, masyarakat Amfoang sudah senang dengan keputusan Gubernur yang akan membangun seluruh ruas jalan provinsi di Amfoang.

Gubernur menegaskan, tidak ada pengalihan anggaran untuk pembangunan jalan di Amfoang. Pemprov NTT sudah bertekad menuntaskan seluruh ruas jalan provinsi di NTT dalam tempo tiga tahun. (mg-01/H-2)