Vihara Sediakan Ruangan Khusus bagi Anak-anak Untuk Beribadah

berbagi di:
img-20201130-wa0013

 

 

 

Sinta Tapobali

Ketua Magabudhi NTT, Indra Effendy dalam webinar dengan tema Rumah Ibadah Ramah Anak yang berlangsung di Hotel Aston Kupang, pada Senin (30/11) siang mengatakan pihaknya menyiapkan ruang ibadah khusus bagi anak-anak di vihara selain ruang ibadah bagi orang dewasa/umum.

Indra menjelasan selain digunakan sebagai tempat untuk ibadah anak-anak, ruangan ini juga dipakai untuk memberikan sekolah minggu Budhha kepada anak-anak.

“Jadi setelah anak-anak kebaktian atau sembahyang dilanjutkan dengan SMB (Sekolah Minggu Buddha),” jelas Indra.

Rumah ibadah yang ramah anak haruslah memiliki ruangan ibadah khusus bagi anak-anak untuk bisa beribadah bersama pembimbingnya agar tidak mengganggu ibadah umat lain dan anak-anak tersebut tidak terganggu oleh orang dewasa dalam peribadatannya.

Menurutnya, rumah ibadah yang ramah dan nyaman sangat diperlukan agar anak-anak senang dan rajin untuk datang beribadah sehingga lebih meningkatkan keyakinan mereka akan ajaran agamanya.

“Rumah ibadah sudah seharusnya nyaman dan ramah bagi semua kalangan baik tua maupun muda, besar kecil. Karena di rumah ibadahlah kita bisa lebih khusyuk dalam beribadah sesuai agama dan keyakinan kita,” ungkap Indra.

Ruangan lain selain ruangan untuk beribadah secara umum itu sangat diperlukan agar pembelajaran yang berhubungan dengan agama itu dapat disesuaikan dengan tingkatan umur dari anak-anak tersebut.

“Anak anak yang masih kecil tentu beda cara berpikirnya maupun cara mereka menangkap informasi dari pengetahuan dibandingkan dengan anak remaja,” ungkapnya.

Selain tempat ibadah harus ramah dan nyaman bagi anak-anakn juga harus ramah dan nyaman juga bagi para penyandang disabilitas.

Menurutnya, para penyandang disabilitas juga warga
Negara yang memiliki hak yang sama dengan kita semua dalam hal dapat menjalankan ibadah atau persembahyangan sesuai agama dan keyakinannya.

“Kalau di kota-kota besar termasuk di kota Kupang saat ini saya lihat beberapa tempat ibadah dari berbagai agama sudah mengakomodir akses masuk yang ramah bagi saudara-saudara disabilitas untuk dapat beribadah atau sembahyang bersama-sama dengan umat lainnya. Tapi tidak kita pungkiri juga masih banyak yang belum mengakomodir bagi saudara-saudara disabilitas. Di sinilah butuh kesepahaman kita semua agar tempat ibadah itu bisa dan harus ramah bagi semua kalangan umat beragama,” pinta Indra.

Indra menambahkan sejak merebaknya Covid-19 di awal tahun 2020 ini hampir semua kegiatan di vihara dibatasi.

Setelah kebijakan untuk beribadah itu diperbolehkan lagi oleh pemerintah maka ruangan untuk beribadah antara orang dewasa dan anak anak itu dipisahkan dan ini merupakan kebijakan yang terbaik untuk menghindarkan anak dari terpaparnya virus corona yang kemungkinan besar dibawa oleh orang dewasa.

“Karena anak anak masih sangat rentan tertular Covid-19 dari orang dewasa yang banyak melakukan kegiatan atau aktivitas di luar rumah demi menghidupi keluarganya. Dengan dipisahkan ruangan ibadah itu maka kita menjaga agar anak-anak yang beribadah itu dapat lebih tenang dan aman dalam peribadatan mereka karena minim adanya kontak dengan orang dewasa yang mungkin saja sebagai OTG,” tutup Indra. (bev/ol)