Vikjen KAK Nilai Pemerintah Tidak Serius Tangani Corona

berbagi di:
Romo Dus Duka

Vikjen KAK Romo Gerardus Duka, Pr.

 

 

Sinta Tapobali

Pemerintah dinilai tidak serius dan setengah hati dalam menangani wabah virus corona yang saat ini penyebarannya sudah semakin tinggi di NTT khususnya di Kota Kupang.

Hal ini diungkapkan Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Kupang, RD. Gerardus Duka kepada VN, Jumat (27/11) siang.

Menurut Vikjen yang akrab di sapa Romo Dus ini, pemerintah membuat regulasi yang tidak jelas dan setengah hati dalam menangani Covid-19 sehingga masyarakat menjadi binggung dan apatis.

“Regulasi tidak jelas, Pemerintah setengah-setengah hati tangani covid, maka akan jadi bumerang ajak masyarakat disiplin. Masyarakat jadi bingung,  lalu ambil sikap apatis,” ungkapnya.

Menurutnya, pemerintah jangan hanya sebatas mengimbau tetapi penerapannya lemah. Informasi dan komunikasi publik para pejabat juga dinilai kurang mendidik di tengah wabah ini.

“Maka semua institusi harus kerja sama dengan regulasi yang jelas dan pasti. Tidak hanya imbau-imbau tetapi terapannya lemah. Saya lihat pemerintah imbau berapi-api di media tetapi mereka sendiri merasa tidak apa-apa dengan Covid,” ujar Romo Dus.

Menurutnya harus ada regulasi yang jelas serta sikap tegas dari pemerintah. Harus ada penerapan sanksi yang tegas, jangan sekedar main-main.

“Harus ada kepastian regulasi, penerapan dengan sanksi yang tegas bukan sekedar main alias akal akalan. Seluruh eleman harus kerja sama dan pejabat harus jadi contoh dalam komunikasi publik di tengah kedisiplinan masyarakat dihadapan covid ini.

Menurutnya ada kelemahan dalam tata kelola ruang publik yang mendidik masyarakat untuk merasa bahwa kita sekarang dalam keadaan yang sulit sehingga membuat masyarakat menjadi masa bodoh.

Ia juga meminta agar narasi “jangan takut Covid yang selalu diucapkan harus dihindari.

Untuk itu, ia meminta pemerintah perlu menerapkan disiplin dan memberikan batasan yang tegas terhadap masyarakat yang keluar masuk baik di bandara maupun di pelabuhan, karena bila tidak ada batasan maka semua strategi penanganan Covid -19 akan sia-sia.

“Kita di Kota Kupang walaupun disiplin tetapi kalau orang keluar masuk tanpa batasan, semua strategi penanganan Covid sia-sia,” tegasnya. (bev/ol)