Wabah DBD di NTT belum Reda

berbagi di:
Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora (kiri) memantau pasien DBD yang dirawat di RSK Lindimara, 11 Februari lalu.

Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora (kiri) memantau pasien DBD yang dirawat di RSK Lindimara, 11 Februari lalu.

 

 

Demam berdarah dengue (DBD) yang menyerang hampir seluruh wilayah NTT belum reda. Korban meninggal dunia bertambah.
Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT per 21 Februari 2019, jumlah pasien DBD yang dirawat mencapai 2.801 orang dengan jumlah korban meninggal dunia 31 orang.

Terjadi peningkatan kasus yang signifikan di Kabupaten Sumba Timur. Sesuai data Dinkes NTT per 21 Februari lalu, jumlah kasus DBD 419 kasus, dimana 11 orang di antaranya meninggal dunia.
Sesuai data terbaru dari tiga rumah sakit di Waingapu, yakni RSK Lindimara, RSU Imanuel, dan RSUD Umbu Rara Meha, sejak 1 hingga 27 Frebuari 2019, total pasien DBD yang dirawat mencapai 490 orang, dimana 14 orang di antaranya meninggal dunia.

Dari jumlah korban DBD yang meninggal dunia itu, sembilan orang meninggal di RSUD Umbu Rara Meha, tiga orang meninggal di RSK Lindimara, dan dua korban lainnya juga meninggal karena DBD, adalah anak-anak yang berasal dari Nggoa, dan juga seorang balita asal Kampung Baru, Kota Waingapu.

Direktur RSK Lindimara, dr Alhairani KLM Mesa, Rabu (27/2), mengatakan, pasien DBD yang dirawat di RSK Lindimara terhitung sejak 1 Januari hingga 26 Februari mencapai 157 pasien, tiga di antaranya meninggal dunia.

Sementara Direktur RSU Imanuel, dr Danny Christian mengatakan, sejak 1 Januari hingga 27 Februari kemarin, pihaknya sudah merawat 155 pasien DBD, semuanya bisa disembuhkan. Tidak ada yang meninggal dunia.

Direktur RSUD Umbu Rara Meha Waingapu dr Lely Harakai menjelaskan sejak 1 Januari hingga 23 Febuari 2019, pasien DBD yang dirawat di rumah sakit yang dipimpinnya itu sudah mencapai 178 orang. Dari jumlah tersebut, sembilan di antaranya meninggal dunia. (nus/tnc/D-1)