Wabah Diare Di TTU Cenderung Meningkat

berbagi di:
ilustrasi diare

 

Gusty Amsikan

Memasuki musim pancaroba tahun ini, jumlah penderita diare di Kabupaten TTU, Nusa Tenggara Timur cenderung meningkat. Hingga awal Oktober, jumlah pasien diare yang dirawat di RSUD Kefamenanu mencapai 57 orang dan rata-rata merupakan balita. Kurangnya ketersediaan air bersih diduga kuat merupakan pemicu tingginya angka penderita diare.

Demikian disampaikan Direktur RSUD Kefamenanu, Robert Tjeunfin, kepada VN, Senin (2/10) di Kefamenanu.

Robert mengatakan jumlah penderita diare di Kabupaten TTU meningkat beberapa bulan belakangan ini. Pada bulan Agustus, jumlah pasien diare yang dirawat di RSUD Kefamenanu sebanyak 14 orang. Memasuki awal Oktober, jumlah tersebut meningkat menjadi 43 orang dan total keseluruhan pasien diare sebanyak 57 orang.

Menurut Robert, penyebab utama merebaknya penyakit diare adalah perilaku hidup bersih dan sehat. Memasuki musim pancaroba ini, hampir seluruh masyarakat mengalami kekurangan air bersih. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah penderita diare. Selain itu, masih banyak pula warga yang mengonsumsi air minum yang tidak dimasak dan tidak memiliki jamban sehat.

Langkah tindak lanjut yang diambil pihak RSUD Kefamenanu adalah dengan melakukan tindakan medis dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat khususnya para orang tua agar memperhatikan dan mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat kepada anak-anak. Hal yang paling utama adalah mengonsumsi air bersih dan memperhatikan kebersihan diri.

“Kami hanya melakukan pengobatan dan penyuluhan. Kami memberikan imbauan kepada masyarakat agar memperhatikan perilaku hidup bersih dan sehat. Pada musim pancaroba memang wabah diare meningkat. Perilaku hidup bersih dan sehat harus diperhatikan. Terutama konsumsi air dan kebersihan diri perlu diperhatikan,”pungkasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, dokter Zakarias Deri Fernandes, belum berhasil dikonfirmasi hingga berita ini diturunkan.