Wakasek SMAN 3: Buku Semata Untuk Mempermudah Siswa

berbagi di:
com-dssoft-bse-kelas7

 

 
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurukulim SMAN 3 Kupang, Yustini N Pohan yang dikonfirmasi VN mengatakan, buku peminatan bagi para siswa disiapkan sekolah untuk mempermudah siswa.

“Buku disiapkan oleh sekolah untuk mempermudah sehingga siswa tidak perlu jauh-jauh ke toko buku. Sebab sekolah telah bekerja sama dengan penerbit,” ungkap Yustini.

Pembelian buku peminatan sesuai jurusan itu, kata dia, telah melewati kesepakatan dengan orangtua saat rapat penerimaan raport. Siswa yang sudah memiliki buku tak perlu. “Tidak harus, jika punya buku di rumah tidak harus membeli. Kalau yang belum punya bisa beli,” kata dia.

Kepala SMAN 3 Kupang, Selfina Dethan yang dikonfirmasi terpisah di kantor Gubernur NTT, kemarin, juga menegaskan pungutan uang buku tersebut telah mendapat persetujuan orangtua saat rapat penerimaan raport, dan sifatnya tidak memaksa.

“Kesepakatan orangtua. Kami kan tayangkan harga buku. Kalau mau beli, ya beli. Bukan kami memaksa, setiap anak tidak wajib,” ujar dia.

Belajar dari pengalaman, lanjut dia, rendahnya nilai Ujian Nasional (UN) dipicu terbatasnya buku sehingga pihaknya menyediakan buku-buku bagi siswa.

Menurutnya, sekolah memang memiliki buku tetapi buku wajib seperti bahasa Indonesia, agama, penjas, bahasa Inggris, matematika, prakarya, yang diadakan dengan dana BOS. Sedangkan buku paket peminatan, kata dia, mahal dan terkadang tidak ada di toko buku sehingga menjadi kesulitan bagi siswa. Karena itu, pihak sekolah memfasilitasinya dengan menyediakan buku-buku peminatan di sekolah untuk dibeli siswa. Di sekolah itu, diwajibkan memiliki buku mata pelajaran.

Sesuai rekomendasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), sekolah disarankan menggunakan buku mata pelajaran terbitan Airlangga dan Platinum.

Harga buku sesuai dari penerbit. Pihak sekolah, kata Selfina Dethan, hanya ingin membantu siswa memiliki buku. Dan tiap siswa wajib memiliki buku karena sudah ada kesepakatan dengan orangtua.

Dia menepis dugaan pihak sekolah memperoleh keuntungan atau komisi dari penerbit. Dia kembali menegaskan bahwa pihaknya semata-mata membantu siswa memperoleh buku sesuai kebutuhan.

“Bagi yang tidak membeli buku, mungkin didapat dari kakak atau keluarga tidak masalah. Asal pada waktu belajar ada buku,” katanya.
Mengenai harga per buku atau akumulasi semua buku peminatan yang dibeli, dia mengaku tidak menghafal data harga buku.

Ia menegaskan untuk mendukung budaya literasi yang terintegrasi maka harus ada buku. Sehingga tidak hanya kelas XII SMA/SMK tetapi kelas X SMA/SMK. “Kan literasi terintegrasi dalam mata pelajaran. Bagaimana literasi jalan kalau buku tidak ada,” tegasnya.

Dengan kemajuan teknologi, lanjutnya, saat ini sudah ada e-book (buku elektronik) yang bisa di-search di Google. “Tapi bisa saja dia melihat banyak hal sehingga mengganggu saat dia membaca di sana (e-book),” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Benyamin Lola yang dikonfirmasi mengenai uang buku ini, berjanji akan memanggil kepala SMAN 3 Kupang untuk meminta penjelasan mengenai alasan meminta uang buku dari siswa.

“Sebab kalau saya kasih penjelasan bagaimana, dia yang buat. Nanti menimbulkan persepsi di masyarakat dan bisa jadi polemik yang berkepanjangan. Jadi saya akan panggil dia ke sini dan kasih penjelasan kepada saya, baru tanya sikap atau jalan keluarnya,” ujar dia.

Seharusnya, kata dia, pihak SMAN 3 Kupang melapor ke Dinas Dikbud NTT terkait uang buku tersebut. “Dia sebagai bagian dari kami di sini, saya panggil dulu. Seharusnya dia lapor tetapi karena adik sudah datang saya sudah tahu informasinya saya akan cek,” ujar dia. (mg-18/C-1)