Wali Kota ‘Curhat’ ke Gubernur Empat Masalah Besar Kota Kupang

berbagi di:
img-20200930-wa0022

 

Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore mengalungkan kain tenun kepada Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat saat kunjungan kerja di Pantai Wisata Lasiana, Rabu (30/9). Foto: Nahor Fatbanu/vn.

 

 

 

Putra Bali Mula

 

WALI Kota Kupang, Jefri Riwu Kore, menyampaikan empat masalah utama yang dihadapinya dalam membangun Kota Kupang kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat.

Empat masalah ini yang menjadi momok dalam pembangunan Kota Kupang antara lain, kata dia, adalah masalah air bersih, sampah, DBD, Covid-19.

Hal tersebut disampaikan Jefri saat kunjungan kerja (kunker) Viktor Bungtilu Laiskodat dalam rangka pembinaan, pengawasan, penyelenggaraan Pemerintahan Kota Kupang. Kunker ini diadakan di lokasi Wisata Pantai Lasiana Kota Kupang, Rabu (30/9).

Wali Kota menilai kunker Gubernur NTT ke Pemerintah Kota Kupang setelah dua tahun lamanya tersebut menjadi momentum yang tepat untuk menyampaikan hal tersebut.

Menurut dia Kota Kupang merupakan etalase dari Provinsi NTT sehingga pihak Pemerintah Provinsi NTT perlu mengetahui kendala yang ada di Kota Kupang.

“Pada kesempatan yang singkat ini saya ingin menyampaikan beberapa hal yang nantinya dapat menjadi perhatian Bapak Gubernur untuk kami di Kota Kupang,” tukas Jefri.

Untuk masalah air bersih pihaknya mengaku sampai saat ini berupaya meningkatkan kapasitas sumber air di Kota Kupang. Sumber-sumber ini adalah Kali Dendeng, Air Sagu, mata air Oesapa yaitu di UKAW. Ia menegaskan peningkatan ini akan menambah sebanyak 231 ribu jiwa pengguna manfaat.

Sementara itu pihaknya juga mengalokasikan anggaran untuk membantu ke lokasi-lokasi yang terdampak kekeringan di Kota Kupang.

“Air bersih ini memang menjadi kendala luar biasa,” tegasnya.

Untuk masalah sampah, terdapat satu unit mobil penyapu jalan yang diberikan oleh Gubernur NTT kepada Kota Kupang. Sementara pihak telah menambah 40 bin container dan tambahan 2000 tong sampah hingga dua tahun terakhir kepemimpinannya.

Saat ini pun hanya ada 30 armada pengangkut sampah yang sudah tua yang nantinya akan ditambah 8 armada lagi. Demikian presentasi jumlah pengangkutan sampah pun baru mencapai 87 persen.

Selain fasilitas-fasilitas tersebut terdapat juga peraturan daerah yang mengatur jam buang sampah namun sampah diakuinya masih menjadi momok. Ia menyebut kontribusi, kesadaran atau kedisiplinan masyarakat masih sangat rendah.

“Kami terus terang sampah ini menjadi momok bagi kami di Kota Kupang,” kata dia.

Ia juga mengaku malu dengan adanya peningkatan jumlah kasus DBD di Kota Kupang sebanyak 8 kasus saat ini. Ia bahkan mengancam akan memotong tunjangan dari para lurah yang wilayahnya terdapat kasus DBD.

“Kami dibuat malu dengan ini,” ungkap dia.

Hal yang sama juga dia rasakan pada permasalahan Covid-19. Ia menyebut penanganan terhadap Covid-19 akan lebih diseriusi pihaknya dengan dana sebesar Rp 42 miliar dengan Rp. 22 miliar untuk kesehatan dan Rp. 20 miliar untuk safety net.

Sementara Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pada kesempatan itu mengapresiasi pembangunan yang tampak di Kota Kupang seperti jalan, LPJU dan taman.

Ia menerima semua keluhan tersebut dan ingin agar dalam waktu tiga hari Pemerintah Kota Kupang membuat proposal mengenai hal apa saja yang bisa dikerjakan Pemprov NTT dan Pemkot Kota Kupang.

“Tiga hari jadi proposalnya yang saya bicarakan ini saya terima,”

Viktor juga mendukung adanya upaya pemanfaatan sumberdaya air yang ada di Kota Kupang. Menurutnya, tidak perlu berharap lebih pada rencana pembangunan bendungan Kolhua yang dinilainya memiliki geologi yang labil dan rentan.

“Tidak boleh lewat dari 2024. Ini perlu disiapkan air bakunya,” kata dia. (Yan/ol)