Warga Belanda Kagumi Kain Tenun Ikat Sumba

berbagi di:
foto-hal-01-cover-belanda-di-sr-pgi-111119

Dua warga negara Belanda, Antoinnette dan Tina Lamboij bercerita santai dengan sejumlah pelajar SMP sesaat sebelum pembukaan Sidang Raya XVII PGI di Sumba Timur, Jumat (8/11) lalu. Foto: Jumal Hauteas/VN

 

 

Jumal Hauteas

Sejumlah warga negara Belanda mengikuti rangkaian acara pembukaan Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jumat (8/11) lalu. Warga negara Belanda ini mengikuti acara pembukaan Sidang Raya PGI ini karena memiliki hubungan emosional dengan Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Payeti tempat penyelenggaraan SR XVII PGI.

Kepada VN saat berkeliling di lokasi pembukaan SR XVII PGI, Antoinette dan Tina mengaku mengagumi kain tenun ikat Sumba yang dikenakan oleh ribuan masyarakat Sumba dari semua strata dan umur, yang menyajikan pemandangan yang sangat eksotis di tengah padang Pure Kambera yang kering dan hanya terdapat rerumputan kering dan beberapa pohon perdu.

“Pakaiannya sangat indah. Kegiatan ini spektakuler. Sangat membanggakan kami sebagai cucu dari Pendeta Piet Lambooij yang pernah memberikan pelayanan di jemaat Payeti pada 1950-an,” urai Antoinette sambil tersenyum.

Tina yang mulai belajar berbahasa Indonesia menuturkan, mereka berasal dari Den Haag-Belanda yang sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Belanda dan berbahasa Inggris. Namun dirinya sedikit bisa berbahasa Indonesia karena saat ini menjadi salah satu profesor hukum yang mengajar di Universitas Airlangga Surabaya.

Karena itu, keduanya sempat berkomunikasi dengan beberapa pelajar SMP yang terlibat dalam acara pembukaan Sidang Raya XVII PGI itu. Keduanya meminta agar anak-anak SMP itu semangat dan giat bersekolah untuk menggapai cita-cita.

“Kalau kamu sekarang SMP berarti harus semangat belajar, supaya bisa lanjutkan ke SMA dan kuliah, sehingga bisa meraih cita-cita kamu,” ajak Tina.

Tina menuturkan dirinya dan Antoinnette baru pertama kali datang ke Sumba setelah mendengar adanya pelaksanaan Sidang Raya XVII PGI, sekaligus ingin melihat pertumbuhan Kekristenan di Sumba, sebagai tempat dimana opa mereka pernah melayani. “Kami senang bisa melihat Kekristenan bertumbuh dengan baik hingga saat ini, karena ayah kami Pather Nanno Lambooij lahir di rumah pastori GKS Payeti, yang masih ada saat ini, dan baru sedang mau direnovasi,” tutur Tina.

 
Bangga dengan Sumba
Keduanya mengaku bangga GKS bisa menjadi tuan rumah penyelenggaraan SR XVII PGI tahun 2019, dan Jemaat Payeti menjadi tuan rumahnya. Karena itu, keduanya mengaku akan menceritakan hal ini kepada keluarga mereka di Belanda untuk bisa merencanakan kembali lagi ke Sumba bersama anggota keluarga mereka yang lain.

“Ini pertama kali kami datang ke Sumba, tetapi bukan yang terakhir. Semoga kami akan bisa datang lagi dengan keluarga kami yang lain,” tambah Antoinnette.

Sementara itu, dua peserta penari tarian Manandang Paoring, Brigitta Maharani Rebu (15) siswi SMAN 3 Waingapu dan Marsela Emerensia Dima (15) siswi SMKN 2 Waingapu kepada VN secara terpisah mengaku bangga bisa mengambil bagian dalam acara pembukaan Sidang Raya XVII PGI, terlebih mereka tampil dengan mengenakan sarung dan memamerkan kain tenun ikat Sumba dalam tarian tersebut.

“Kami bangga dan sangat bahagia bisa mengambil bagian dalam momen yang akan sangat bersejarah bagi masyarakat Sumba Timur dan Sumba pada umumnya hingga ratusan tahun ke depan. Jadi kami sudah menampilkan yang terbaik untuk menjadi kebanggaan Sumba Timur, terutama bagi kemuliaan Tuhan saat menari tadi,” urai Maharani dan Marsela.

Demikian halnya dengan Hendrik Huhu Nangkiwa, warga Desa Kuta, Kecamatan Kanatang yang menjadi salah satu penunggang kuda pada atraksi ringkikan dan hentakan kaki kuda, saat puisi Beri Daku Sumba dibacakan. Hendrik juga mengaku bangga karena walaupun tidak dilibatkan dalam gladi karena masalah transportasi kuda, Hendrik mengaku dirinya dan 349 penunggang kuda lainnya mampu menampilkan atraksi yang juga dapat dibanggakan sebagai orang Sumba, dan juga untuk kemuliaan Tuhan.

“Kami senang karena bisa menunggang kuda di acara sekelas pembukaan Sidang Raya PGI ini. Pasti akan kami ceritakan kepada anak-cucu kami, bahwa kuda Sandalwood juga sudah mencatatkan sejarah dalam pesta iman Sidang Raya PGI,” urainya bangga. (mg-02/R-2)