Warga Kesulitan Melipat Surat Suara

berbagi di:
logistik pemilu

 

 

Gerasimos Satria
Pemilihan umum tahun 2019 merupakan pemilihan umum terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia ini. Hal ini karena pemilihan dilakukan secara serentak mulai dari pemilihan kabupaten/kota hingga pemilihan presiden. Namun, masih ditemukan beberapa kekurangan dalam sistem ini salah satunya adalah kesulitan warga dalam melipat kertas suara.

Menurut pemilih, kertas suara terlalu lenar sehingga menyulitkan mereka dalam proses pelipatan.

“Kalau kesulitan tentu ada. Paling sulit itu waktu kita melipat kertas suara khususnya tiga kertas suara DPRD kabupaten, DPRD Provinsi dan DPR RI. Kan ukurannya besar jadi itu yang menyulitkan kami,” kata Stanislaus Tarwan, warga Desa Lamawalang-Kecamatan Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Ia menyebut selain harus memilih dan mencoblos beberapa lembar kertas suara, melipat setiap surat suara juga butuh waktu sehingga cukup lama dalam bilik suara bahkan harus meminta bantuan para penyelenggara.

Hal senada juga disampaikan Lodovikus S. Uhe Koten, warga desa Lowoloba-Kecamatan Ilemandiri.

Menurut Lodovikus, setiap pemilih butuh waktu cukup banyak sehingga ia harus menunggu cukup lama sejak pagi untuk mencoblos.

“Kesulitan lain yang ditemukan adalah tidak ada kesempatan para pemilih yang buta huruf untuk melakukan proses memilih karena dari regulasi KPU, pendampingan hanya diberikan buat para pemilih disabilitas dan lanjut usia,” tegasnya lagi. (bev/ol)