Warga Wolomapa Sikka Kesulitan Air Bersih

berbagi di:
SUNGAI MENGERING: Warga Desa Wolomapa, Sikka, mengambil air bersih di sumber air sungai Wair Kokang Klemot yang berjarak sekitar 1 kilometer dari desa. Gambar diabadikan kemarin. Foto:MI/Gabriel Langga MUSIM kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sikka, membuat warga Desa Wolomapa, Kecamatan Hewokloang kesulitan mendapatkan air bersih. Warga terpaksa berjalan kaki hingga satu kilo serta menuruni tebing curam untuk mendapatkan air bersih di Sungai Wair Kokang Klemot. Salah satu tokoh masyarakat Desa Wolomapa, Petrus Petu mengatakan hampir seluruh warga Desa Wolomapa mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-harinya sehingga di setiap rumah mereka ada bak air untuk menampung air hujan. Namun saat kemarau, warga terpaksa membeli air satu tangki yang isinya 5.000 liter dengan harga sekitar Rp500 ribu. "Kita andalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-harinya. Kalau musim hujan, pasti bak air milik warga penuh. Tetapi kalau musim kemarau, warga terpaksa membeli air. Bagi warga yang tidak ada bak air dan tidak bisa membeli air, pasti mereka ambil air di kali itu yang lokasinya sangat terjal," papar dia, Rabu (14/10). Petrus mengaku pandemi covid-19 seperti sekarang membuat kesulitan warga untuk mendapatkan air bersih makin tinggi. Pasalnya mobil tangki air bersih tidak bisa masuk ke Desa Walomapa karena adanya aturan protokol kesehatan. "Mau tidak mau kita harus turun ke kali untuk ambil air karena mobil tangki air milik swasta tidak beroperasi. Kalau soal air, desa kita sejak dari dulu memang kesulitan air bersih. Kalau musim hujan kita masih legah. Tetapi masuk musim kemarau begini, kita harus keluarkan uang tidak sedikit untuk membeli air," ujar Petrus. Sementara itu, Kepala Desa Wolomapa, Marianus Moa menyebutkan, saat musim kemarau, pemerintah desa Wolomapa selalu menganggarkan uang untuk membeli air tangki menggunakan dana desa. "Kita anggarkan untuk pembelian air tangki demi mencukupi kebutuhan air bersih. Tetapi tidak seberapa yang kita anggarkan. Air tangki yang kita anggarkan itu khusus didrop bagi warga yang kurang mampu," pungkas dia. Krisis Air BMKG Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang, sudah mengeluarkan peringatan kekeringan meteorologis di daerah itu. Peringatan dini dikeluarkan karena saat ini seratus persen dari total zona musim (ZOM) sudah berada dalam periode musim kemarau. "Potensi dampak yang timbul terkait kekeringan meteorologis pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan, ketersediaan air tanah yang menyebabkan kelangkaan air bersih, dan meningkatkanya potensi kemudahan teerhadinya kebakaran," kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Apolinaris S Geru. Menurutnya, ada dua kecamatan yang berstatus waspada kekeringan karena memiliki peluang curah hujan kurang dari 20 milimeter yakni Magepanda di Kabupaten Sikka dan Pahunga Lodu di Sumba Timur. Selain itu, 20 kecamatan berstatus siaga kekeringan dan 39 kecamatan berstatus awas kekeringan. (mi/R-4)

 

SUNGAI MENGERING: Warga Desa Wolomapa, Sikka, mengambil air bersih di sumber air sungai Wair Kokang Klemot yang berjarak sekitar 1 kilometer dari desa. Gambar diabadikan kemarin. Foto:MI/Gabriel Langga

 

 

 

MUSIM kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sikka, membuat warga Desa Wolomapa, Kecamatan Hewokloang kesulitan mendapatkan air bersih. Warga terpaksa berjalan kaki hingga satu kilo serta menuruni tebing curam untuk mendapatkan air bersih di Sungai Wair Kokang Klemot.

Salah satu tokoh masyarakat Desa Wolomapa, Petrus Petu mengatakan hampir seluruh warga Desa Wolomapa mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-harinya sehingga di setiap rumah mereka ada bak air untuk menampung air hujan. Namun saat kemarau, warga terpaksa membeli air satu tangki yang isinya 5.000 liter dengan harga sekitar Rp500 ribu.

“Kita andalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-harinya. Kalau musim hujan, pasti bak air milik warga penuh. Tetapi kalau musim kemarau, warga terpaksa membeli air. Bagi warga yang tidak ada bak air dan tidak bisa membeli air, pasti mereka ambil air di kali itu yang lokasinya sangat terjal,” papar dia, Rabu (14/10).

Petrus mengaku pandemi covid-19 seperti sekarang membuat kesulitan warga untuk mendapatkan air bersih makin tinggi. Pasalnya mobil tangki air bersih tidak bisa masuk ke Desa Walomapa karena adanya aturan protokol kesehatan.

“Mau tidak mau kita harus turun ke kali untuk ambil air karena mobil tangki air milik swasta tidak beroperasi. Kalau soal air, desa kita sejak dari dulu memang kesulitan air bersih. Kalau musim hujan kita masih legah. Tetapi masuk musim kemarau begini, kita harus keluarkan uang tidak sedikit untuk membeli air,” ujar Petrus.

Sementara itu, Kepala Desa Wolomapa, Marianus Moa menyebutkan, saat musim kemarau, pemerintah desa Wolomapa selalu menganggarkan uang untuk membeli air tangki menggunakan dana desa. “Kita anggarkan untuk pembelian air tangki demi mencukupi kebutuhan air bersih. Tetapi tidak seberapa yang kita anggarkan. Air tangki yang kita anggarkan itu khusus didrop bagi warga yang kurang mampu,” pungkas dia.

 

Krisis Air

 

BMKG Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang, sudah mengeluarkan peringatan kekeringan meteorologis di daerah itu. Peringatan dini dikeluarkan karena saat ini seratus persen dari total zona musim (ZOM) sudah berada dalam periode musim kemarau.

“Potensi dampak yang timbul terkait kekeringan meteorologis pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan, ketersediaan air tanah yang menyebabkan kelangkaan air bersih, dan meningkatkanya potensi kemudahan teerhadinya kebakaran,” kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Apolinaris S Geru.

Menurutnya, ada dua kecamatan yang berstatus waspada kekeringan karena memiliki peluang curah hujan kurang dari 20 milimeter yakni Magepanda di Kabupaten Sikka dan Pahunga Lodu di Sumba Timur. Selain itu, 20 kecamatan berstatus siaga kekeringan dan 39 kecamatan berstatus awas kekeringan. (mi/R-4)