Waspada Virus African Swine Fever dari Timor Leste

berbagi di:
img-20191001-wa0016

 

Rapat koordinasi pencegahan virus ASF. Foto: Kekson Salukh/VN

 

 

 

Kekson Salukh

Wabah penyakit African Swine Fever (ASF) sedang terjadi di kawasan Asia termasuk Taiwan. Virus ASF mampu bertahan hidup pada produk daging babi segar maupun daging yang diolah dengan pengasapan atau makanan yang kurang matang. Saat ini kejadian penyakit ASF semakin meluas dan mengakibatkan wabah di beberapa negara seperti Laos, Hongkong, Republik Rakyat China, Mongolia, Korea, Kamboja, Vietnam. Beberapa Negara Eropa (Hungaria, Bulgaria, Latvia, Moldova, Polandia, Romania, Ukraina, Rusia) serta Negara Afrika seperti Chad dan Zimbabwe juga ikut tertular.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan pemberitaan bahwa peternakan babi di Negara Timor Leste telah terserang penyakit ASF. Pengujian terhadap sampel babi yang mati telah dilakukan di laboratorium Australia untuk mengetahui penyebab kematian masal ini. Dari semua sampel babi yang dikirim untuk diuji, dinyatakan 41% positif terserang virus ASF. Hal yang perlu diingat bahwa penyakit ASF ini belum ada di Indonesia!!

Ini cukup mengejutkan. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya pulau Timor merupakan salah satu daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste perlu mewaspadai virus ini.

Menanggapi persoalan tersebut, pemerintah daerah Provinsi NTT melalui asisten II Biro Ekonomi bersama Karantina Pertanian Kupang melakukan rapat koordinasi, Senin, (30/9) siang di ruang asisten II kantor Gubernur NTT.

Asisten II Biro Ekonomi Provinsi NTT, Semuel Rebo yang di konfirmasi VN, selasa, (1/10) pagi mengatakan, rapat koordinasi itu dilakukan untuk membahas langkah apa yang akan diambil pemerintah provinsi dalam mencegah masuknya virus ASF ke Indonesia khususnya Provinsi NTT.

Semuel menjelaskan, saat ini NTT sudah menjadi daerah terancam yang berpotensi terjadinya penyakit ASF karena NTT merupakan daerah peternakan babi terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 2 juta ekor.

“Penyakit ini belum ada obatnya. Vaksin juga belum ada. Saat ini ASF mengancam populasi ternak babi di NTT. Mengingat NTT sendiri merupakan daerah peternakan babi terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 2 juta ekor,” ujar Semuel saat memimpin rapat.

Pemerintah dan Karantina Pertanian Kupang, kata Samuel, harus segera membentuk tim terpadu sebagai langkah strategis yang bisa di lakukan untuk mencegah penyebaran virus ASF.
Gubernur NTT juga akan segera membuat edaran kepada Bupati se-NTT terkait waspada terhadap masuknya ASF dan akan dilakukan sosialisasi ASF di 3 daerah perbatasan hingga tingkat desa, serta akan dilakukan surveilen di wilayah perbatasan.

Terpisah, Kepala Karantina Pertanian Kupang, Nur Hartanto menerangkan Karantina Pertanian Kupang sudah mengambil tindakan memperketat pengawasan di pintu Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan juga bandara Internasionak El Tari.

Lanjut Hartanto, petugas Karantina di PLBN sudah melakukan koordinasi dengan Pamtas dan BNPP dan melakukan pemasangan poster ASF serta larangan pemasukan ternak babi dan produknya dari Timor Leste

“Kami tidak tinggal diam. Karantina Pertanian Kupang semakin memperketat pengawasan di pintu Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan juga bandara Internasionak El Tari. Petugas Karantina di PLBN sudah melakukan koordinasi dengan Pamtas dan BNPP dan melakukan pemasangan poster ASF serta larangan pemasukan ternak babi dan produknya dari Timor Leste,” jelas Nur Hartanto.

Hartanto menambahkan, rapat koordiansi dengan Pemprov NTT dipimpin Asisten II bidang Ekonomi provinsi NTT, Samuel Rebo dihadiri perwakilan Dinas Peternakan, Dinas Kesehatan, BNPP, UPTD, Dinas Pertanian dan juga Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). (bev/ol)