Waspadai Provokator Bendungan Raknamo

berbagi di:
ISTIMEWA TAMPAK DARI UDARA: Inilah tampak Bendungan Raknamo yang difoto dari udara menggunakan drone. Progres pembangunannya menurut PT Waskita Karya sudah mencapai 98 persen.

ISTIMEWA
TAMPAK DARI UDARA: Inilah tampak Bendungan Raknamo yang difoto dari udara menggunakan drone. Progres pembangunannya menurut PT Waskita Karya sudah mencapai 98 persen.

 

 

Yes Balle

 

 

Bupati Kupang Ayub Titu Eki meminta semua pihak untuk jeli dan mewaspadai oknum-oknum tertentu yang ingin mendapatkan keuntungan besar dengan memanfaatkan keluguan masyarakat sekitar lokasi Bendungan Raknamo, di Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang. Dia menduga ada provokator yang berada di balik permintaan warga yang meminta ganti rugi lahan sampai miliaran rupiah.

“Ada provokor yang mau kaya mendadak, usul tidak tahu malu sampai miliaran rupiah biaya ganti rugi lahan. Padahal, kesepakatan awal tidak ada ganti rugi lahan. Yang ada hanya ganti biaya pemindahan kubur sebesar Rp 25 juta per kubur,” ujar Bupati Titu Eki saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (7/9).
Jalan Lingkar Luar
Titu Eki juga mengingatkan kepada pengelola, pemilik dan pelaksana proyek pembangunan Bendungan Raknamo agar bertanggung jawab terkait janji pembangunan jalan lingkar luar di bendungan tersebut. Dia meminta agar janji tersebut harus ditepati sebelum timbul masalah di tengah masyarakat.

“Pengelola proyek tidak boleh abaikan janji kepada masyarakat. Jangan sampai tanpa sepengetahuan masyarakat adat, penguasa dan pengusaha klaim lahan di sekitar bendungan itu milik mereka. Kalau kita gusur untuk kepentingan masyarakat boleh saja, tapi tidak boleh merampok tanah masyarakat,” tegasnya.

Dia juga mengingatkan agar pemilik proyek Bendungan Raknamo harus mempertanggung jawabkan ratusan pohon jati milik masyarakat yang telah ditebang dan tidak tahu rimbanya hingga saat ini.

“Saya harap pemilik proyek harus luruskan soal kayu-kayu jati milik masyarakat. Rakyat yang tanam kayu-kayu jati itu,” katanya.
Terkait pemanfaatan Bendungan Raknamo setelah beroperasi, Bupati Titu Eki mengingatkan agar jangan sampai ada calo calo yang mulai menafaatkan tanah-tanah masyarakat di pinggiran bendungan.

“Tanah lingkar luar harus ditempati dan dipakai oleh rakyat sendiri. Jangan sampai masyarakat tidak dapat apa apa dari bendungan ini. Masyarakat harus menikmati keuntungan proyek besar ini. Pengelola proyek harus koordinasi. Jangan sampai mengabaikan kepentingan rakyat yang sudah berkorban untuk proyek itu,” tegasnya.

 

Jawab Kebutuhan Rakyat
Ketua DPRD Kabupaten Kupang Yosep Lede yang ditemui terpisah, berharap agar Bendungan Raknamo yang hampir selesai dibangun itu harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat di daerah sekitar dalam aspek pemenuhan kebutuhan air baku, dan untuk kepentingan pertanian masyarakat sekitar.

Ia menegaskan multi manfaat dari proyek Bendungan Raknamo harus betul-betul memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat yang ada di sekitar bendungan. Sebab, masyarakat sudah memberikan lahanya.

Menurutnya, Bendungan Raknamo memiliki manfaat jangka panjang. Dan, masyarakat sekitar bendungan yang utama dalam memetik manfaat dari bendungan tersebut, terutama dari aspek air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di rumah, pertanian dan perkebunan.

“Jangan proyek yang menghabiskan dana ratusan miliar tapi tidak berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar bendungan,” kata Yosep Lede.

 

Fisik 98 Persen
Kepala Teknik Pembangunan Bendungan Raknamo dari PT Waskita Karya Agasi Yudha Bestolova mengatakan, sampai pekan terakhir Agustus sudah 95 persen pekerjaan yang dirampungkan sesuai kontrak. Bahkan, pekerjaan utama secara fisik sudah mencapai 98 persen.

“Jika tidak ada kondisi ekstrem, maka pekerjaan semuanya rampung pada akhir tahun ini. Mudah-mudahan tinggal pekerjaan akhir ini tidak bermasalah dan bisa selesai tahun ini,” kata Yudha.

Menurut dia, secara teknis sampai saat ini tidak ada persoalan krusial yang dihadapi Waskita Karya sebagai pelaksana proyek. Hal itu terjadi karena adanya koordinasi yang baik dengan semua pemangku kepentingan.

“Sesuai kontrak, pada Febuari 2019 harus selesai, tapi upaya percepatan tahun 2017 ini selesai. Kami optimis secara fisik selesai pada bulan Oktober. Sisa pekerjaan akhir saja,” pungkas Yudha. (yes/E-1)